Jumat, 01 Januari 2010

MAKALAH BANK

DAMPAK FLUKTUASI TINGKAT NILAI TUKAR USD/IDR DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP PRODUK-PRODUK YANG DIHASILKAN OLEH SUATU PERUSAHAAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku bunga efektif untuk memperkuat nilai tukar apabila tidak terdapat faktor-faktor non-ekonomi lain yang mengganggu. Sebaliknya, peningkatan suku bunga tidak efektif untuk memperkuat nilai tukar apabila terdapat faktor-faktor non-ekonomi yang mengganggu, seperti berbagai rumor negatif, pengerahan masa, dan kerusuhan sosial. Dalam upaya mengendalikan inflasi, efektivitas suku bunga menjadi lebih rendah karena inflasi selain disebabkan oleh faktor permintaan (core inflation) juga dipengaruhi oleh faktor penawaran (noise inflation), seperti produksi dan distribusi. Hasil peneltian menunjukkan bahwa peningkatan suku bunga memang efektif untuk mengendalikan core inflation ( inflasi yang merupakan fenomena moneter), tetapi tidak efektif untuk menekan noise inflation (inflasi yang dipengaruhi oleh sektor riil).

Dalam keadaan yang sangat sulit dan serba dilematis, sektor moneter terpaksa menanggung beban yang sangat berat, yaitu stabilisasi nilai tukar dan inflasi. Program stabilisasi tersebut terpaksa harus dibayar dengan suku bunga yang sangat tinggi, bahkan pernah mencapai lebih dari 70%. Dalam situasi seperti ini, sementara nilai tukar dan inflasi belum menunjukkan kemajuan yang berarti, tekanan dari berbagai pihak bermunculan yang kemungkinan bisa menggoyahkan komitmen dalam menstabilkan rupiah.

Untuk mengurangi beban suku bunga dalam mengendalikan inflasi dan nilai tukar, beberapa saran diajukan untuk jangka pendek antara lain perlunya pemulihan kepercayaan investor domestik dan asing, pelaksanaan program restrukturisasi perbankan,pencairan bantuan luar negeri untuk membiayai APBN, dan intervensi valas. Untuk jangka panjang, pengaturan terhadap investor internasional.
BAB I

1.1. Pendahuluan
Dalam menganalisis hubungan antara kenaikan suku bunga dengan perubahan nilai tukar, dan kenaikan suku bunga dengan perubahan harga (inflasi), dengan stabilitas harga atau pertumbuhan ekonomi kebijakan moneter akan mempengaruhi perekonomian melalui empat jalur transmisi :
1. Jalur suku bunga (Keynesian) berpendapat bahwa pengetatan moneter mengurangi uang beredar dan mendorong peningkatan suku bunga jangka pendek yang apabila credible, akan timbul ekspektasi masyarakat bahwa inflasi akan turun atau suku bunga riil jangka panjang akan meningkat. Permintaan domestik untuk investasi dan konsumsi akan turun karena kenaikan biaya modal sehingga pertumbuhan ekonomi akan menurun.
2. Jalur nilai tukar berpendapat bahwa pengetatan moneter, yang mendorong peningkatan suku bunga, akan mengakibatkan apresiasi nilai tukar karena pemasukan aliran modal dari luar negeri. Nilai tukar akan cenderung apresiasi sehingga ekspor menurun, sedangkan impor meningkat sehingga, transaksi berjalan (demikian pula neraca pembayaran) akan memburuk. Akibatnya, permintaan agregat akan menurun dan demikian pula laju pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
3. Jalur harga aset (monetarist) yang berpendapat bahwa pengetatan moneter akan mengubah komposisi portfolio para pelaku ekonomi (wealth effect) sesuai dengan ekspektasi balas jasa dan risiko masing-masing aset. Peningkatan suku bunga akan mendorong pelaku ekonomi untuk memegang aset dalam bentuk obligasi dan deposito lebih banyak dan mengurangi saham.


4. Jalur kredit yang berpendapat bahwa kebijakan moneter akan mempengaruhi kegiatan ekonomi melalui perubahan perilaku perbankan dalam pemberian kredit kepada nasabah. Pengetatan moneter akan menurunkan net worth pengusaha. Menurunnya net worth akan mendorong nasabah untuk mengusulkan proyek yang menjanjikan tingkat hasiltinggi tetapi dengan risiko yang tinggi pula (moral hazard) sehingga risiko kredit macet meningkat. Akibatnya, bank-bank menghadapi adverse selection dan mengurangi pemberian kreditnya sehingga laju pertumbuhan ekonomi melambat.

Berdasarkan beberapa literatur, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar, yaitu :
1. Faktor fundamental :
Faktor fundamental berkaitan dengan indikator-indikator ekonomi seperti inflasi, suku bunga, perbedaan relatif pendapatan antar-negara, ekspektasi pasar dan intervensi Bank Sentral.
2. Faktor teknis :
berkaitan dengan kondisi penawaran dan permintaan devisa pada saat-saat tertentu. Apabila ada kelebihan permintaan, sementara penawaran tetap, maka harga valas akan naik dan sebaliknya.
3. Sentimen pasar :
lebih banyak disebabkan oleh rumor atau berita-berita politik yang bersifat insidentil, yang dapat mendorong harga valas naik atau turun secara tajam dalam jangka pendek. Apabila rumor atau berita-berita sudah berlalu, maka nilai tukar akan kembali normal.

1.2. Latar Belakang Masalah

Efektivitas pengendalian moneter di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dirasakan semakin berkurang sebagaimana terlihat pada semakin sulitnya pencapaian sasaran-sasaran operasional berupa sasaran-sasaran moneter maupun sasaran-sasaran akhir khususnya laju inflasi dan neraca pembayaran.

Permasalahan ini tampaknya terkait dengan perkembangan sistem, operasi, dan instrumen pasar keuangan yang pesat dan semakin kompleks serta peningkatan keterkaitan pasar keuangan domestik dan internasional yang telah berdampak pada:
• Berubahnya definisi, cakupan, dan perilaku uang beredar.
• Terjadinya proses pemisahan kegiatan antara sektor moneter dan sektor riil sehingga hubungan antara uang beredar dan berbagai variabel di sektor riil semakin sulit diprediksi.
• Semakin besar dan cepatnya arus lalu lintas modal sehingga uang beredar dalam jangka pendek menjadi berfluktuatif dan sulit dikendalikan.

Kini uang tidak lagi dipandang sebagai alat pembayaran, akan tetapi juga sebagai komoditas yang diperdagangkan. Volume perputaran uang di sektor keuangan telah jauh melebihi kebutuhan pembiayaan di sektor riil. Proses disintermediasi semakin lama semakin menggejala. Akibatnya, hubungan antara uang beredar dengan berbagai variabel di sektor riil menjadi semakin kompleks dan sulit diprediksi. Fungsi permintaan uang yang selama ini digunakan sebagai salah satu acuan dalam manajemen moneter menjadi kurang stabil perilakunya.

1.3. Metode Penulisan
Metode penulisan yang penulis gunakan dalam penulisan ini adalah dengan study kepustakaan dan buku-buku yang telah penlis baca yang berhubungan dengan masalah penulisan. Selain itu penulis yang mencari informasi-informasi dari perubahan nilai tukar behubungan dengan produk perusahaan.

1.4. Sistematika
Untuk mempermudah dalam melengkapi dan menganalisis penulisn ini maka sebelum penyajian maka penulis membaginya kedalam 3 Bab yaitu :
Bab I Pendahuluan :
Bab ini menjelaskan secara singkat mengenai latar belakag penulisan, batasan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan serta sistematika penulisan.

Bab II Pembahasan :
Bab ini menjelaskan tentang pergerankan nilai tukar, suku bunga, dan tingkat inflasi yang berdampak pada tingkat penjualan perusahaan.

Bab III Penutup :
Bab ini berisikan kesimpulan dan saran-saran bagi penyempurnaan penulisan ini.

BAB II
2.1. Inflasi
2.1.1 Penyebap Inflasi Terjadi

Pertumbuhan ekonomi diikuti dengan inflasi. Hal ini menunjukan dari segi pemasok, proses produksi yang terjadi sebagai adanya kebijakan ekspansi moneter lebih kepada meningkatkan kemampuan produksi tanpa adanya perubahan teknologi. Dengan kata lain, peningkatan produksi ini diikuti dengan semakin turunnya produksi marjinal dari tenaga kerja, sebagai akibat peningkatan penggunaan jasa tenaga kerja, baik penambahan tenaga kerja maupun penambahan jam kerja.

Implikasi dari proses produksi ini adalah menimbulkan biaya produksi yang relatif meningkat. Sehingga menimbulkan inflasi yang disebabkan oleh dorongan biaya yang meningkat. Tambah lagi, masyarakat Indonesia, mempunyai pola konsumsi yang tumbuh tinggi, turut menyebabkan dorongan inflasi yang tinggi. Sebagaimana diketahui bahwa permintaan yang relatif tinggi akan menimbulkan inflasi sebagai akibat kurangnya pemasok di pasar komoditi.

Kondisi dimana pertumbuhan ekonomi diikuti oleh inflasi yang tinggi memberikan gambaran bahwa kondisi mikroekonomi Indonesia masih relatif rapuh. Artinya bahwa perkembangan lingkungan usaha di sektor makro- ekonomi yang kondusif tidak banyak dapat dimanfaatkan dengan baik.

Ketidakmampuan ini disebabkan oleh rendahnya transparansi dan akuntabilitas, sehingga membuat perusahaan- perusahaan di Indonesia cenderung untuk meningkatkan keuntungan tanpa memperbaiki kemampuan produksi marjinal dari modal. Dengan kata lain, perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih memperhatikan kinerja perusahaan di jangka pendek, dibandingkan dengan kinerja di jangka panjang.

Hal ini bisa dilihat dari tidak adanya perbaikan dari produksi marjinal dari modal, yang disebabkan oleh keputusan pengelola untuk tidak memperbaiki teknologi produksi di dalam perusahaan. Pengertian teknologi ini, tidak hanya teknologi mesin/barang modal yang lebih maju, namun juga perbaikan teknologi dalam pengelolaan sumber daya, baik pelatihan tenaga kerja hingga sistim manajemen perusahaan.


2.1.2 Tingkat Inflasi Indonesia
Pengetatan moneter yang mengakibatkan kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi dapat menimbulkan perdebatan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di semua negara karena adanya perbedaan kepentingan. Untuk melihat mana yang benar dari kedua kubu tersebut, penyebab inflasi perlu dipilah antara faktor demand pull dan cost push.

Pada dasarnya inflasi dapat dipilah antara yang bersifat permanen dan temporer :
1. Laju bersifat permanen (core inflation) adalah :
- laju inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan permintaan terhadap barang dan jasa (permintaan agregat) dalam perekonomian, sehingga — walaupun inflatoir — permanen dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
- Beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab perubahan laju inflasi yang bersifat permanen adalah interaksi antara ekspektasi masyarakat terhadap laju inflasi, jumlah uang beredar, faktor siklus kegiatan usaha (misalnya tingkat penggunaan kapasitas produksi dan inventory), dan tekanan permintaan musiman (misalnya hari raya keagamaan, musim panen, dan dimulainya tahun ajaran baru).
2. Laju inflasi yang bersifat temporer (noise inflation) adalah :
- laju inflasi yang disebabkan oleh gangguan sesekali (one time shock) pada laju inflasi.
- Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gejolak sementara ialah kenaikan biaya input produksi dan distribusi (misalnya pass through effect dari depresiasi yang mengakibatkan kenaikan biaya input untuk industri), kenaikan biaya energi dan transportasi, dan faktor non-ekonomi (seperti kerusuhan sosial, bencana banjir, gempa bumi, dan kebakaran hutan).

2.1.3 Dampak inflasi terhadap produksi perusahaan

Pengaruh globalisasi dan pasar internasional telah memperpuruk ekonomi Indonesia. Sebagaimana telah diketahui pengaruh atas nilai tukar uang di kawasan asia timur telah merambah hingga ke mata uang rupiah. Tambah lagi, pada saat pengaruh ini terjadi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan semakin rendah sehingga implikasi dari efek ini sangat melemahkan nilai Rupiah. Hal ini menyebabkan perusahaan-perusahaan yang sumber pendanaan dan inputnya menggunakan mata uang asing, sementara pendapatannya berupa Ru-piah, menghadapi kesulitan yang besar. Dampak ini menyebabkan perusahaan mengurangi produksinya, sehingga barang dan jasa yang diperjual belikan berkurang. Sementara permintaan masyarakat masih relatif tinggi, sehingga dampak inflasi yang terjadi, bersumber dari dua arah yaitu, cosh push dan demand pull. Meningkatnya biaya produksi dan menurunnya produksi, dengan sendirinya mempengaruhi industri lain, sekalipun industri tersebut tidak menggunakan dana atau bahan baku luar negeri. Hal ini disebabkan, penurunan pendapatan masyarakat, sebagai perusahaan mengurangi produksi.

2.2. Nilai tukar
2.2.1 Gerakan nilai tukar
Dalam tulisan ini, nilai tukar mata uang di suatu negara ditentukan oleh suatu sistem interaksi antara fungsi permintaan terhadap penawaran mata uang negara tersebut. Fungsi permintaan terhadap suatu mata uang (FD) merupakan penjumlahan antara :
1. Permintaan riil :
Adalah permintaan yang timbul untuk memenuhi kebutuhan fungsionalrasional (fungsi konsumtif) yang merupakan alasan dasar terciptanya sebuah pasar valas, dimana alasan dasar keberadaannya adalah untuk kepentingan dan kelancaran perdagangan internasioanal (uang dianggap sebagai nilai tukar), contoh : kebutuhan untuk biaya impor, kebutuhan untuk bayar hutang luar negeri, dan lain-lain.
2. Permintaan artifisial :
Sejumlah dollar tertentu yang tercatat dalam transaksi namun muncul bukan karena kebutuhan untuk konsumsi atau dalam rangka melakukan transaksi perdagangan internasional, contohnya :
1. Karena rasa kekhawatiran yang berlebih terhadap trend harga dollar yang diekspektasikan akan semakin naik sehingga keperluan yang akan datang dipenuhi lebih dini (panic buying),
2. Untuk mempertahankan posisi/kepentingan tertentu seperti menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang dinilai terlampau tinggi (over valued terhadap dollar) maka otoritas moneter melakukan intervensi di pasar valas dengan memborong dollar,
3. Untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya (usaha spekulasi dan arbitase), dan lain-lain.
3. Permintaan semu :
Sejumlah kebutuhan yang tidak tercatat dalam transaksi tetapi merubah fungsi harga (korektif), Contoh : rumor, politik, perang, persepsi, contagion effect, rekayasa, dll. Sifat korektif inilah yang menjadi fungsi permintaan terhadap harga menjadi semakin inelastis.

Penawaran total/riil di pasar adalah fungsi penjumlahan :
1. Penawaran seharusnya :
Sejumlah dollar/barang tertentu yang seharusnya berada dipasaran, diakibatkan proses produksi/transkasi. Contoh : Pemasukan dollar dari hasil impor.
2. Penawaran artifisial :
Sejumlah tertentu pasokan barang/dollar yang bukan dihasilkan dari fungsi produksi/transaksi yang ada. Contoh : Bantuan dari bank sentral lain, pinjaman siaga IMF, dll.
3. Penawaran yang hilang (loss suplly) :
Koreksi kehilangan sejumlah tertentu dari barang/dollar yang seharusnya. Contoh : usaha penimbunan.

2.2.2 Resiko nilai tukar

Asumsi bahwa manajemen membuat keputusan-keputusan untuk kepentingan para pemegang saham, resiko nilai tukar timbul kapanpun perusahaan harus berhubungan sekarang ataupun dimasa datang dalam valas selain mata uang yang digunakan oleh para pemegang saham untuk mendanai konsumsinya. Tentu saja tidak hanya importir/eksportir yang terpengaruh oleh resiko nilai tukar, akan tetapi perusahaan yang tidak bertransaksi dalam valaspun (tidak melakukan aktivitas internasional, ekspor maupun impor) terpengaruh oleh resiko nilai tukar.

Contoh :
Penjual (retailer) jam tangan Indonesia menjual jam tangan impor dari berbagai negara seperti Jepang dan Swiss. Retailer tersebut tidak pernah bertransaksi dalam pasar valas atau melaksanakan transaksi ekspor dan impor. Akan tetapi peluang-peluang bisnis dan konsumsinya terpengaruh oleh perubahan nilai dari Yen dan Franc Swiss (apresiasi Yen dan Franc terhadap IDR/Rupiah). Hal ini terjadi karena retailer tersebut setiap harinya menjual barang-barang impor (buatan Jepang dan Swiss). Dengan adanya apresiasi tersebut, harga barang impor tersebut akan naik, sehingga harga jualnya akan naik pula dan pada gilirannya tentu akan berpengaruh pada peluang bisnis dan konsumsi retailer tersebut. Demikian pula dengan perusahaan Indonesia yang secara ekslusif menjual dan membeli seluruh inputnya dari sumber-sumber RI terpengaruh oleh resiko nilai tukar karena revenues dan expensesnya yang didenominasi dalam Rupiah (IDR), perusahaan menghadapi resiko nilai tukar valas karena perubahan-perubahan dalam IDR akan mempengaruhi posisi kompetitifnya.

2.2.3 Cara mengatasi nilai tukar
Resiko nilai tukar dapat mempengaruhi jajaran luas perusahaan- perusahaan. Oleh karena itu perusahaan perlu untuk melakukan peramalan sebelum melakukan tindakan untuk menghindari atau mengurangi resiko kerugian atas valas. Beberapa fungsi koporasi yang membutuhkan peramalan nilai tukar adalah :
1. Kebutuhan hedging,
Perusahaan-perusahaan multinasional terus membuat keputusan berkenaan dengan perlu tidaknya melakukan hedging hutang dan piutang valas di masa datang. Keputusan hedging dapat ditentukan setelah memperoleh hasil peramalan valuta asing. Hedging sebagai strategi keuangan akan menjamin bahwa nilai valas yang digunakan untuk membayar (outflow) atau sejumlah uang asing yang akan diterima (inflow) dimasa datang tidak terpengaruh oleh perubahan dalam fluktuasi kurs valas. Prinsip dasar hedging adalah untuk melakukan komitmen lain penyeimbangan dalam valas yang sama. Yakni, komitmen kedua untuk sejumlah yang sama dari komitmen awal namun berlawanan tanda.

2. Kebutuhan Pembiayaan Jangka Pendek,
Pada saat perusahaan-perusahaan besar meminjam valuta asing,pinjaman/hutang valas tersebut digunakan untuk maksud hedging namun telah jelas pula bahwa sejumlah besar valas yang telah dipinjam digunakan untuk maksud-maksud domestik. (hutang dikonversi kedalam mata uang lokal misalnya IDR/Rupiah dan dipakai untuk tujuan-tujuan domestik).
Valuta yang mereka pinjam idealnya akan :
(1) mengandung suku bunga yang rendah dan
(2) mengalami depresiasi.

Jika pinjaman tersebut dibiarkan tidak di-hedge debitur menghadapi resiko valas. Debitur akan merugi karena depresiasi IDR atau valuta asing tersebut mengalami apresiasi. Eksistensi resiko valas mengarahkan banyak debitur valas untuk melakukan hedging pinjaman mereka dengan membeli valas yang diperlukan secara forward untuk membayar kembali pinjaman. Bukti bahwa kurs forward mematuhi aturan IRP menjamin bahwa manfaat dan juga resiko utama dari pinjaman valas akan dieliminir. Namun adanya pajak dan friksi pasar yang lain dapat tetap pada saat tertentu dan untuk sejumlah debitur tertentu memberikan marginal cost advantage dari pinjaman luar negeri daripada pinjaman yang berasal dari sumber-sumber domestik. Keunggulan-keunggulan tersebut dapat menjelaskan peningkatan atas pinjaman luar negeri. Pada banyak kasus, pertimbangan- pertimbangan biaya hanya merupakan salah satu faktor pendukung yang membantu kearah keputusan untuk meminjam di luar negeri. Secara jelas bahwa pendanaan luar negeri sering dipilih ketimbang pendanaan dalam negeri karena kecepatan dan instrumen-instrumen peminjaman yang luas yang ditawarkan oleh lenders pada pasar luar negeri. Contoh khususnya adalah Eurocurrency market

3. Keputusan Investasi Jangka Pendek,
Perusahaan kadang-kadang mengalami kelebihan kas dalam jumlah yang signifikan yang dapat diinvestasikan untuk jangka pendek. Deposito-deposito yang bernilai besar dapat diinvestasikan dalam beberapa valuta. Valuta yang ideal bagi deposito harus :
(1) mengandung suku bunga yang tinggi dan
(2) mengalami apresiasi sepanjang periode investasi.

Contoh :
Misalkan perusahaan RI yang memiliki kelebihan kas mendepositokan kas tersebut pada sebuah bank Hong Kong, yang valutanya mengalami apresiasi terhadap IDR pada akhir periode deposito. Pada saat deposito HKD (Hong Kong Dollar) ditarik dan dikonversikan ke dalam IDR, rupiah yang diterima menjadi lebih banyak dari sebelumnya, akibat apresiasi HKD terhadap IDR (Rupiah) tersebut. Dengan demikian peramalan nilai valuta yang mendenominasi deposito perlu dilakukan pada saat menentukan tempat investasi kas jangka pendek tersebut.

4. Kebutuhan Penganggaran Modal,
Pada saat perusahaan multinasional membuat keputusan mengenai pendirian anak perusahaan pada negara tertentu, MNC tersebut akan melakukan analisis penganggaran modal. Peramalan arus kas di masa datang yang digunakan dalam proses penganggaran modal akan tergantung pada nilai valuta di masa depan. Ketergantungan ini dapat terjadi karena :
(1) arus kas valas yang masuk atau keluar, memerlukan konversi ke dalam valuta negara asal dan/atau
(2) pengaruh nilai tukar di masa datang atas permintaan terhadap
produk-produk perusahaan. Nilai tukar dapat mempengaruhi arus kas dengan beberapa cara, namun intinya bahwa keakuratan peramalan nilai valuta akan memperbaiki akurasi estimasi arus kas, dengan demikian meningkatkan kemampuan pembuatan keputusan perusahaan multinasional.

5. Kebutuhan Pembiayaan Jangka Panjang, dan
Perusahaan yang menerbitkan obligasi untuk mendapatkan dana jangka panjang mungkin ingin mendenominasi obligasi dalam valas. Sama seperti pembiayaan jangka pendek, perusahaan akan lebih suka jika valuta yang dipinjam mengalami depresiasi terhadap valuta yang mereka terima dari penjualan. Untuk mengestimasi biaya penerbitan obligasi yang didenominasi dalam valas, diperlukan peramalan nilai tukar.

6. Penilaian Laba.
Ketika laba perusahaan multinasional dilaporkan, laba dari subsidiary (anak perusahaan) dikonsolidasikan dan ditranslasikan kedalam laporan keuangan perusahaan induk (parent company).

2.3 Tingkat suku bunga

Tingkat suku bunga pada dasarnya merupakan pandangan Keynessian dimana suku bunga riil jangka panjang paling berpengaruh dalam perekonomian. Pengetatan moneter mengurangi uang beredar dan dalam jangka pendek akan mendorong naiknya suku bunga nominal jangka pendek. Apabila kebijakan ini dianggap credible, masyarakat akan mempunyai ekspektasi bahwa laju inflasi akan menurun di waktu mendatang sehingga expected inflation menurun atau suku bunga riil jangka panjang meningkat. Permintaan domestik baik untuk investasi maupun untuk konsumsi akan menurun karena biaya dana (cost of capital) yang lebih tinggi. Akhirnya laju pertumbuhan ekonomi cenderung lebih rendah.

Berikut ini adalah beberapa jalur transmisi kebijakan moneter dengan menggunakan sasaran suku bunga :

 Intertemporal substitution. Perubahan suku bunga akan mengubah biaya pinjaman atau pendapatan dari tabungan. Hal ini selanjutnya akan berpengaruh terhadap komponen utama pengeluaran, terutama untuk investasi usaha, investasi perumahan, dan mungkin juga pengeluaran konsumsi barang-barang tahan lama.
 Exchangerateeffect. Di dalam sistem nilai tukar mengambang, kenaikan suku bunga, ceteris paribus, biasanya akan dihubungkan dengan apresiasi nilai tukar dalam jangka pendek sehingga barang impor relatif menjadi lebih murah dan laju inflasi akan menurun. Kegiatan ekspor juga akan terpengaruh karena penjualan barang ekspor akan beralih ke dalam negeri. Pengalihan pasar produk ekspor ini juga akan mendorong turunnya harga-harga di dalam negeri.

 Cash-floweffect. Dengan meningkatnya suku bunga nominal, pendapatan nominal debitur akan menurun. Jika debitur menghadapi kendala likuiditas akibat meningkatnya suku bunga dan tidak dapat meminjam lagi dalam jumlah lebih besar untuk mempertahankan tingkat pengeluaran semula maka pengeluaran mereka terpaksa harus diturunkan.

 Wealtheffect. Perubahan suku bunga yang biasa digunakan sebagai faktor diskonto dari ekspektasi pendapatan untuk masa yang akan datang akan mengubah nilai aset finansial dan aset riil. Perubahan nilai aset-aset tersebut mengakibatkan perubahan tingkat kesejahteraan pelaku ekonomi dan pada gilirannya akan mempengaruhi keputusan

 Credit rationing effect. Peningkatan suku bunga dapat mendorong bank-bank untuk meningkatkan premi resiko yang mereka bebankan kepada debitur lama maupun calon debitur baru akibat kekhawatiran akan turunnya kapasitas para debitur dalam membayar hutang-hutangnya. Implikasinya, suku bunga kredit meningkat, suplai kredit menurun, atau terjadi penjatahan kredit. menjadikan suku bunga sebagai sasaran operasional pengendalian moneter.
BAB III

3.1. Kesimpulan

Resiko nilai tukar adalah perubahan-perubahan nilai tukar yang tidak pasti mengarah pada fluktuasi-fluktuasi tidak pasti pada nilai perusahaan. Perusahaan menghadapi resiko nilai tukar pada saat terdapat perubahan-perubahan potensial yang tidak terantisipasi dalam nilai tukar, yang berpengaruh pada/mengurangi nilai perusahaan. Perusahaan dikatakan exposed to exchange risk (terpengaruh oleh resiko kurs valas), karena adanya pergerakan yang tidak terlihat dari nilai tukar valas.

Perbedaan suku bunga dan kurs forward antar mata uang pada topik-topik terdahulu memberi informasi tentang nilai tukar masa datang. Selain itu, berbagai model forecasting digunakan oleh para analis untuk membantu mengungguli pasar. Teknik-teknik yang diaplikasikan bervariasi berkaitan dengan system nilai tukar tertentu yang ada. Forecasting nilai tukar dalam system kurs tetap (fixed rate system) secara esensial merupakan fungsi dari dari kemampuan untuk memprediksi tindakan-tindakan pemerintah. Di sisi lain, forecasting nilai tukar dalam system nilai tukar mengambang (floating rate system) merupakan fungsi dari kemampuan seseorang untuk meramal (forecast) variable-variabel fundamental ekonomi. Namun, bukti empiris menunjukkan bahwa pasar valuta asing tidak berbeda dengan pasar keuangan lainnya dalam hal ketidak mampuan untuk prediksi-prediksi yang menguntungkan.

3.2. Saran

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, kami mengajukan saran- saran sebagai berikut. Untuk jangka pendek kami rekomendasikan untuk mengambil langkah atau merealisasi program yang telah dibuat sebagai berikut:
1. Pemulihan kepercayaan investor domestik dan internasional;
2. Pelaksanakan program restrukturisasi perbankan;
3. Pencairan bantuan luar negeri untuk di pasar valas;
4. Pelaksanaan selective credit policy;
5. Penyelesaian utang luar negeri swasta;
6. Penerbitan SBI valas. Untuk jangka panjang,

Beberapa saran berikut kiranya dapat dipertimbangkan:
1. Pembatasan kewajiban luar negeri baik swasta maupun pemerintah;
2. Kewajiban penempatan sebagian modal masuk jangka pendek di Bank Sentral;
3. Peningkatan efisiensi sektor riil melalui penyesuaian struktural;
4. Pembentukan regional surveillance; dan
5. Pengaturan terhadap investor internasional.


BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Faisal, M. 2001, Manajemen Keuangan Internasional; dengan penekanan praktek pada pasar devisa, Edisi Pertama. Salemba Empat.
2. Iljas, Achjar, “Suatu Tinjauan Mengenai Penggunaan Nilai Tukar Sebagai Nominal Anchor dalam Pengendalian Inflasi di Indonesia”, Makalah Sespibi Angkatan XVII, 1992.
3. Doddy Budi Waluyo dan Benny Siswanto (1998), “Peranan Kebijakan Nilai Tukar Dalam Era Deregulasi dan Globalisasi” dalam Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, UREM, Juli 1998
4. Hartadi Sarwono dan Perry Warjiyo (Juli 1998), “Mencari Paradigma Baru Manajemen Moneter Dalam Sistem nilai Tukar Fleksibel”, dalam Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, UREM, Juli 1998
5. Anwar Nasution, 1997,Manajemen Usahawan Indonesia, No 10 Th XXVI Oktober 1997. Jakarta.
6. Marzuki Usman,1997, Pengendalian Nilai tukar rupiah : Fakta dan Implikasi, Makalah Panel Diskusi, 4 Oktober 1997 Fakultas Ekonomi UNPAD Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar